Banyak kita dapati sebagian besar kaum muslimin, seringkali mengadakan yasinan yang mereka niatkan untuk orang tua , keluarga , bahkan guru-guru mereka yang diniatkan untuk mengirimkan pahala untuk mereka dan mendoakan mereka. Kegiatan ini sering dikenal dengan istilah yasinan. Akan tetapi sering terjadi perbedaan antara mereka yang mungkin sudah mulai mengaji di tempat kajian yang identik dengan kajian sunnah,yang lebih dikenal dengan istilah “salafi”, dengan mereka yang lebih mengarah ke kelompok yang sering kita kenal dengan istilah “aswaja”. Bagaimana kedudukan amalan ini ?

Sebagian besar kaum muslimin , khususnya di negeri kita, bersandar pada sebuah hadits yang diriwayatkan dari seorang sahabat yang bernama Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dari rasul bahwasanya beliau bersabda :

“اِقْرَأُوا عَلٰى مَوْتَاكُمْ يسٍ”

“Bacakanlah Yasin untuk orang-orang mati di antara kalian”

Hadits ini didha’ifkan oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam kitabnya : Dha’if Al-Jami’, Al-Misykah, dan dha’if Abu Dawud, walaupun ada beberapa ulama yang menghasankannya. Adapun pendapat para ulama yang menghasankan hadits tersebut berpendapat bahwa, yang dimaksud di hadits tersebut dengan kalimat عَلٰى مَوْتَاكُمْ adalah bukan seperti yang banyak difahami oleh kebanyakan saudara kita, yaitu mereka yang sudah wafat mendahului kita. Akan tetapi yang dimaksud dengan kalimat tersebut adalah orang-orang yang menjelang ajal wafatnya, dimana sedang hendak dicabut nyawanya pada saat menjelang sakaratul maut. 

Mereka yang menghasankan hadits ini berpendapat bahwa dengan dibacakannya surat Yasin untuk seseorang yang hendak memasuki sakaratul maut, bertujuan untuk membuat mereka mengingat akhirat karena banyak disebutkan tentang kehidupan baik di dunia dan akhirat , hingga surga dan neraka. Diniatkan agar mereka berhusnuzzhan kepada Allah Ta’ala menjelang wafatnya. Tentunya tidak ada pengkhususan yang shahih dari Rasulullah berkaitan dengan surat Yasin yang diniatkan untuk dibacakan terhadap orang-orang yang telah wafat. Syeikh ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan : “ Jika haditsnya shahih maka dibacakan saat seseorang sebelum naza’ (dicabut nyawanya). Adapun membacakan surah Yasin di kuburan maka tidak asalnya”.

Wallahu A’lamu bisshowaab.