Sebagian besar kaum muslimin , khususnya di negeri kita tercinta , pasti sangat familiar dengan sosok ulama masyhur di artikel ini. Beliau terkenal dengan salah satu madzhab terkenalnya yang banyak diakui oleh kaum muslimin di negeri kita. Siapakah ulama tersebut?. Beliau adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, yang kita kenal dengan Imam Asy-Syafi’i. Nama lengkap beliau adalah : Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Sa’ib  bin ‘Ubaid bin Abdu Yazid, bin Hisyam bin Abdul Muththalib, bin Abdu Manaf[1]. Sosok pejuang hadits, ahli fiqih dalam agama, Abu Abdullah Al-Qurasyi, Al-Muththalibi Al-Makki, putra dari paman Rasulullah ﷺ . Al-Muththalib adalah saudara dari Hasyim yang merupakan ayah dari Abdul Muththalib. Ia dinamai Syafi’i dari penisbatan kakek jauhnya yang bernama Syafi’.

 Imam Asy-Syafi’i’i dilahirkan di kota Gaza, Palestina, pada tahun 150 H. Pada saat beliau dilahirkan, ayahnya yang bernama Idris sedang pergi ke Gaza dari Mekkah untuk suatu keperluan. Ayahnya meninggal dunia pada saat Imam Asy-Syafi’i masih berada di dalam kandungan. Beliau tidak mengenal siapa ayahnya. Ibunya melahirkannya di kota Gaza, jauh dari tanah kaumnya di Mekkah dan Hijaz. Imam Asy-Syafi’i’i memulai perjalanan hidupnya dalam keadaan yatim dan miskin. Lalu ibunya memutuskan untuk pindah bersama putranya ke kota Mekkah. Ketika itu, imam Asy-Syafi’i masih berusia dua tahun[2].

Imam Asy-Syafi’i’i tumbuh di kota Mekkah, belajar memanah hingga berhasil melampaui teman-teman lainnya. Beliau juga belajar bahasa Arab dan sya’ir, dan ia pun menguasainya dan melampaui teman-temannya seperti belajar memanah. Di Mekkah Al-Mukarramah beliau berhasil menghafal Al-Quran pada saat berusia 7 tahun. Subhanallah, sangat berbeda jauh sekali dengan anak-anak kita. Seandainya mereka menghafal sesuatu, biasanya kita terbiasa membuat buah hati kita dengan mengafal kalimat-kalimat nyanyian, atau nama-nama pemain bola, nama-nama artis, penyanyi ataupun yang lainnya, yang seharusnya tidak dijadikan teladan untuk buah hati kita. Apakah mustahil kita mencontoh keteladanan dari salafus shaleh?. Hanya kepada Allah ﷻ kita memohon pertolongan.

Di antara yang diriwayatkan dari beliau adalah: bahwa imam Asy-Syafi’i adalah seorang yang memiliki kecerdasan cemerlang, cepat dalam menghafal. Apabila ia hendak menghafal, beliau akan meletakkan tangannya menutupi halaman yang berhadapan dengan halaman yang sedang ia hafalkan, agar tidak bercampur baur, karena beliau mampu menghafal hanya dengan sekali memandang matan yang akan ia hafalkan. Betul-betul kemampuan jenius. Maa syaa Allah tabaarakallah. Kemampuan istimewa inilah yang beliau gunakan untuk mempelajari ilmu syar’i. Beliau menuntut ilmu mempelajari fiqih di Mekkah langsung kepada syaikh Masjid Al-Haram dan muftinya di zaman itu, yaitu : Muslim bin Khalid Az-Zinji, dan Sufyan bin ‘Uyainah Al-Hilali, serta ulama-ulama lainnya.

Setelah dari Mekkah, beliau datang ke kota Madinah untuk menemui Imam Malik, . Beliau menghafal Al-Muwaththa’ karya Imam Malik. Beliau belajar langsung kepada Imam Malik. Imam Malik pun kagum kepada beliau, hingga Imam Malik mengatakan : “ Wahai Muhammad, bertaqwalah kepada Allah dan engkau akan menjadi orang besar”[3]. Setelah itu , Imam Asy-Syafi’i pergi ke Yaman untuk mengemban amanah jabatan yang diberikan oleh Mush’ab bin Abdullah Al-Qurasyi, yaitu sebagai qadhi di Yaman. Lalu pada tahun 184 H, Imam Asy-Syafi’i berangkat menuju Irak dan mempelajari ilmu yang dimiliki oleh para ulama Irak, dan mengajarkan kepada mereka ilmu-ilmu dari ulama-ulama Hijaz yang telah beliau kuasai.

Kemudian Imam Asy-Syafi’i mengenal Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani, murid Imam Abu Hanifah, yang darinya beliau belajar fiqih madzhab Hanafi. Beliau banyak bertukar pikiran dengannya dalam banyak maslah , hingga kemudian Imam Asy-Syafi’i berangkat menuju negeri Mesir. Beliau menemui ulamanya Mesi, belajar dan mengajarkan kepada mereka ilmu dari negeri Hijaz. Pada tahun 195 H beliau Kembali ke Irak pada masa kekhilafahan Al-Amin. Pada masa inilah Imam Asy-Syafi’i menjadi seorang imam, yang memiliki madzhab tersendiri. Beliau menetap di Irak selama 2 tahun , lalu ia Kembali ke Hijaz setelah sebelumnya beliau menyelesaikan penulisan kitab Al-Hujjah . Setelah sekian lama pengembaraan beliau dalam perkara ilmu syar’i, akhirnya pada tahun 199 H Imam Asy-Syafi’i Kembali ke Mesir. Setelah banyak bertemu dengan murid-murid dari Al-Laits bin Sa’ad, dan ahli fiqih Mesir lainnya, dan beliau berdebat dengan mereka dalam berbagai masalah, Imam Asy-Syafi’i pun mulai menimbang kembali pendapat lamanya yang tertuang di dalam kitabnya Al-Hujjah, dan beliau membuat sejumlah perubahan dalam madzhab barunya[4].

Diriwayatkan dari Abu Bakar As-Siba’i, ia berkata : “ Aku mendengar sebagian guru mengatakan bahwa Imam Asy-Syafi’i pernah dicela oleh sejumlah orang lantaran ia condong kepada ahlul bait dan karena dalam cintanya kepada mereka, sehingga mereka menuduhnya sebagai penganut syi’ah Rafidhah. Maka menanggapi itu imam Asy-Syafi’i mengatakan di dalam sebuah sya’irnya :

Berdirilah di tempat melempar jumrah di Mina, dan berteriaklah di sana

Berteriaklah di dataran rendah dan juga di dataran tingginya

Jika mencintai ahlul bait Muhammad itu berarti rafidhah

Maka hendaklah seluruh jin dan manusia bersaksi bahwa aku adalah rafidhah

             Memang Imam Asy-Syafi’i terkenal dengan kefasihannya dalam berbahasa dan juga kemampuannya dalam menulis sya’ir yang memiliki makna yang dalam. Di antara sya’irnya yang bisa kita jadikan nasehat untuk kita semua adalah :

Kita mencela zaman padahal aib itu ada pada diri kita

Sungguh zaman kita tidak memiliki aib kecuali diri kita

Kita mencaci zaman padahal ia tidak berdosa

Andai zaman bisa berbicara niscaya ia akan mencela kita

Serigala tidak akan memakan daging serigala lainnya

Sementara sebagian dari kita memakan sebagian yang lainnya secara nyata

            Perkataan beliau yang bisa kita jadikan suri teladan dalam menuntut ilmu,khususnya ilmu syar’i, adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari Imam Al-Muzani, beliau mengatakan : “ Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata : ‘ Barangsiapa yang mempelajari Al-Quran maka nilainya akan menjadi besar. Barangsiapa yang berbicara tentang fiqih, maka kehormatannya akan tumbuh. Barangsiapa yang menulis hadits maka hujjahnya akan kuat. Barangsiapa yang memperdalam bahasa arab maka tabiatnya akan menjadi lembut. Barangsiapa yang mendalami ilmu hisab, maka pikirannya akan menjadi sehat, dan barangsiapa yang tidak menjaga dirinya, maka ilmunya tidak bermanfaat baginya’”[5].

            Karena ketulusan dan keshalehan imam ini, Allah ﷻ berkehendak agar fiqihnya dikenal, dan madzhabnya tersebar di Hijaz, Irak, Mesir, Syam, Palestina, Aden, Hadhramaut, dan banyak lagi negeri-negeri lainnya. Imam Asy-Syafi’i terus tinggal di Mesir,memberi fatwa dan mengajar hingga akhirnya ia wafat pada tahun 204H. Al-Muzani berkata : “ Aku menemui Asy-Syafi’i saat beliau sakit yang menyebabkan kematiannya. Aku bertanya : “ Bagaimana pagimu?” Beliau menjawab : “ Aku menyambut pagi ini dalam keadaan meninggalkan dunia, berpisah dengan saudara-saudaraku, meminum cawan kematian, bertemu dengan amal-amal burukku, dan berjumpa dengan Allah ﷻ. Aku tidak tahu apakah ruhku akan pergi ke surga sehingga aku mengucapkan selamat kepadanya, ataukah ke neraka sehingga aku mengucapkan belasungkawa kepadanya?”. Kemudian beliau menangis, lalu mengatakan[6] :

Ketika hatiku menjadi keras dan tempat aku pergi menyempit

Aku jadikan harapankuakan ampunan-Mu sebagai tangga Ya Allah

Dosaku sungguh besar, namun ketika aku bandingkan

Dengan ampunan-Mu duhai Tuhanku, maka ampunan-Mu jauh lebih besar

Engkau masih tetap sebagai Dzat Yang Mengampuni dosa dan akan tetap demikian

Engkau bermurah hati dengan ampunan-Mu dan kemuliaan-Mu

Sungguh ketika aku mengerjakan dosa aku mengetahui kadarnya

Dan aku mengetahui bahwa Allah akan mengampuni karena rahmat-Nya.


[1] Lihat : Adab Asy-Syafi’i wa Manaaqibuhu , Ibnu Abi Hatim Ar-Razi, hal 38.

[2] Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (9/67), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimaysq (2/59).

[3] At-Tuhfah Al-Lathifah fi Tarikh Al-Madinah (tentang yang Namanya Muhammad), dan diriwayatkan juga oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (51/286).

[4] Beliau tidak lagi mengeluarkan fatwa sesuai dengan pendapatnya dalam madzhab lama, kecuali sekitar sepuluh masalah saja, yang dirangkai oleh As-Suyuthi pada bagian terakhir dari Al-Asybah wan Nazhair.

[5] Lihat : Manaqib Al-Baihaqi (I/282), Manaqib Ar-Razi :70, Thabaqat Asy-Syafi’iyah, Al-‘Ibadi (32), dan Siyar A’lamin Nubala (10/24).

[6] Siyar A’lam An-Nubala’ (10/75-76).