Tauhid adalah bahasan terpenting, karena tauhid adalah tujuan hidup sebagaimana Allah ﷻ berfirman dalam QS Adzdzariyat : 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Pembahasan tauhid adalah pembahasan yang dibutuhkan oleh semua orang, baik awam, penuntut ilmu, dai, dan bahkan seorang ulama sekalipun. Ujub dan riya adalah bentuk godaan yang senantiasa menimpa orang yang beribadah kepada Allah. Pembahasan ini juga pembahasan para ahli tauhid, agar mereka mencapai derajat tertinggi dari tauhid itu sendiri, yaitu masuk surga tanpa hisab.

 

Orang indonesia adalah orang-orang yang sangat butuh pada pembahasan tauhid ini, karena kesyirikan tumbuh subur sekali di Indonesia. Berapa orang yang sudah mengaku jadi Nabi, dan tetap saja ada yang mengakui mereka. Salah satu buku yang memuat kesyirikan-kesyirikan di tanah air adalah buku yang merupakan tesis s2 dari Ustadz Abdullah Zein.

 

Penulis buku ini, Syaikh muhammad bin Abdul Wahhab, lahir di masa-masa kesyirikan sangat merajalela di tanah arab, banyak yang melakukan kesyirikan di kuburan Zaid bin khattab, banyak orang yang percaya pada dukun. Maka buku ini sangat dibutuhkan, sebagai pengingat kaum muslimin.

 

Salah satu keistimewaan buku ini adalah bahwa belum pernah ada ulama yang menulis buku seperti ini. Pada zaman salaf awal dahulu, zaman imam yang empat dan zaman-zaman setelahnya yang tidak jauh dari zaman mereka belum marak terjadi kesyirikan pada uluhiyyah Allah, karena kesyirikan lebih banyak terjadi pada filsafat dan ilmu kalam.

 

Namun banyak juga ulama yang menyinggung tauhid uluhiyyah dalam kitab-kitab mereka, seperti Imam Arrozi Asysyafii di abad ke 6 H yang menyinggung masalah keyakinan terhadap para penghuni kubur, Imam Almaqrizi Asysyafii abad 9 menulis kitab tajriduttauhid al mufiid, kemudian juga Imam Ashshanani memulis kitab Tathhirul I’tiqad, serta Imam Assysyaukani menulis kitab Syarhussudur fi Tahrim Raf’il qubur. semua buku ini adalah buku-buku yang membahas tentang tauhid ibadah.

 

Imam al-Maqrizi (845H) mengatakan “iyyaka nabud” maknanya meniadakan syirik mahabbah (syirik dalam kecintaan) dan syirik ibadah (syirik dalam penyembahan), dan “iyyaka nastain” maknanya meniadakan syirik cipta dan rabubiyyah (sifat khusus ketuhanan). Maka tidak boleh seorang hamba menyekutukan Allah dalam perbuatan, ucapan dan kehendaknya. Contoh kesyirikan dalam perbuatan adalah sujud pada selain Allah ﷻ, thawaf selain di Kabah, mencium sebuah batu selain hajar aswad, mencium kuburan, mengusap kuburan, sujud pada kuburan.

 

Ziarah kubur ada 3 macam :

  1. Sunnah : ziyarah dan mendoakan penghuni kubur
  2. Syirik dalam uluhiyyah dan mahabbah : Ziyarah dan berdoa kepada Allah dengan wasilah penghuni kubur tersebut
  3. Syirik dalam rububiyyah : ziyarah dan memanggil-mangil penghuninya, meminta pertolongan kepadanya.”

 

Ashshan’ani (1250H) mengatakan, “ini buku pembersihan aqidah dari kemungkaran, aku memandang bahwa aku wajib menulis dan menyusunnya, karena banyak dari manusia bahkan orang-orang yang mengaku islam namun mengambil tandingan-tandingan bagi Allah ﷻ dalam ibadah mereka, di kota-kota, di negeri-negeri, kampung-kampung, dan semua negeri. Yaman, Syam, Mesir, Najed, Tihamah dan lain-lain”.

 

Rasulullah ﷺ melarang bentuk-bentuk penghiasan kuburan supaya kita terjauh dari pengagungan kuburan yang berlebihan, karena sudah ada pendahulu-pendahulu manusia yang melakukan kesyirikan ini sebagaimana Allah ﷻ kabarkan dalam alquran dan dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits-hadits beliau ﷺ. Perlu diketahui, bahwa syirik penyembahan kuburan datang dari orang-orang syiah. Mereka shalat ke kuburan, memasang lampu di kuburan, menyemen dan membangun kubah di atas kuburan-kuburan, kuburan dihias-hiasi oleh mereka, bahkan imam mereka khumaini menghabiskan puluhan juta dolar untuk membangun kuburannya. Allaahul musta’aan.