Bab XI

Larangan Menyembelih karena Allah ﷻ di Tempat Sembelihan Kesyirikan

 

Bab ini dibawakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk menjelaskan bagaimana syariat tidak ingin umat ini mendekat kepada kesyirikan sekecil apapun itu, sebagaimana juga larangan syariat mendekati dosa besar, Allah ﷻ berfirman “Jangan dekati zina”.

 

Agama ini adalah agama hanif, yaitu agama yang condong menuju tauhid dan jauh dari kesyirikan. Nabi Ibrahim meminta kepada Allah ﷻ untuk dijauhkan dari kesyirikan sejauh-jauhnya. Nabi Muhammad ﷺ melarang kita dari banyak perkara yang menghantarkan kepada kesyirikan, meskipun asalnya adalah ibadah. Sebagai contoh, kita dilarang melakukan shalat disaat matahari terbit atau terbenam, agar kita tidak menyerupai orang-orang yang beragama Shinto di jepang, yang mewarisi ritual penyembahan matahari di dua waktu tersebut, kita juga dilarang berdoa di dekat-dekat kuburan orang shalih, atau di masjid yang ada kuburannya, karena ini semua akan menggiring kaum muslimin kepada pengagungan dan ibadahh kepada penghuni kubur.

 

Dalil pertama

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ – لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Artinya :

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan”. Dan Allah ﷻ menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu beribadah dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah ﷻ menyukai orang-orang yang bersih.

 

Ayat ini berkisah tentang seseorang bernama Abu Amir Arrahib, bapak dari shahabat Handzhalah. Abu Amir adalhah seorang musyrik yang suka membaca buku ahli kitab, sehingga memiliki wawasan yang luas dan dianggap sebagai seorang alim senior di kota madinah. Kemudian Nabi ﷺ datang ke kota ini, Nabi ﷺ diagungkan oleh shahabat anshar lebih darinya, akhirnya dia hasad dan tidak mau beriman kepada Rasulullah ﷺ.

 

Kemudian, Abu Amir pergi ke syam mencari dukungan, serta memprovokasi orang-orang munafiq di madinah untuk membuat kekacauan. Orang munafiq diminta oleh Abu Amir untuk membangun markaz, orang-orang munafiq tidak berani karena mereka sedikit dan suasana tidak mendukung mereka. Akhirnya Abu Amir punya ide untuk membangun masjid, dengan tujuan memecah belah umat muslimin. Orang-orang munafiq tersebut setuju dan meminta ijin dengan alasan-alsan yang masuk akal kepada Nabi ﷺ, lalu mereka meminta kepada Nabi ﷺ agar dapat shalat di sana sebagai peresmian, saat telah pulang dari perang tabuk. Nabi ﷺ pergi ke perang tabuk, dan sepulangnya, turunlah ayat ini, tepatnya satu atau dua malam sebelum Nabi ﷺ dan pasukan sampai di pintu kota Madinah.

 

Ini dalil bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui isi hati mereka, tujuan mereka membangun masjid tersebut, itu merupakan hal ghaib, hingga kemudian Allah ﷻ melarang Nabi ﷺ shalat di sana dikarenakan masjid tersebut dibangun bukan karena Allah ﷻ. Tidak layak shalat dan beribadah di tempat yang bukan dibangun untuk ibadah kepada Allah ﷻ, termasuk salah satu bentuk keridhoan dan kecondongan hati kepada kesyirikan yang tampak.

 

Dalil kedua

Tsabit bin Dhohhak berkata :

قال: نذر رجل أن ينحر إبلاً ببوانة، فسأله النبي صلى الله عليه وسلم فقال: هل كان فيها وثن من أوثان الجاهلية يعبد؟ قالوا: لا. قال: فهل كان فيها عيد من أعيادهم؟ قالوا: لا. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أوف بنذرك، فإنه لا وفاء لنذر في معصية الله، ولا فيما لا يملك ابن آدم [رواه أبو داود، وإسنادها على شرطهما

“Ada seseorang yang bernadzar akan menyembelih onta di Buwanah, lalu ia bertanya kepada Rasulullah, maka Nabi bertanya : “apakah di tempat itu ada berhala berhala yang pernah disembah oleh orang-orang jahiliyah? para sahabat menjawab : tidak, dan Nabipun bertanya lagi : “apakah di tempat itu pernah dirayakan hari raya mereka? para sahabatpun menjawab : tidak, maka Nabipun menjawab : “laksanakan nadzarmu itu, karena nadzar itu tidak boleh dilaksanakan dalam bermaksiat kepada Allah, dan dalam hal yang tidak dimiliki oleh seseorang” (HR. Abu Daud, dan Isnadnya menurut persyaratan Imam Bukhori dan Muslim).

 

Hadits ini jelas, Nabi ﷺ bertanya akan dua hal :

  1. Apakah di sana ada berhala yang disembah?
  2. Apakah di sana ada perayaan orang-orang musyrik?

 

Dua pertanyaan ini sebelum dijawab menjelaskan bahwa menyembelih di tempat itu adalah nadzar maksiat dan dekat dengan mendukung kesyirikan.

 

Di sini perlu diperhatikan juga, bahwa tempat berhala Laata yang berada di kota Thaif sekarang telah dibangun masjid. Syaikh Bin Baz menjawab bahwa jika tempat ibadah kesyirikan tersebut telah bersih dari bau kesyirikan dan telah ditempati oleh orang-orang yang bertauhid, maka ibadah dan membangun masjid di sana tidak mengapa, ini tidak sampai pada melanggar hadits di atas. Dan seandainya jika dilestarikan maka akan menimbulkan penyembah-penyembah Laata yang baru kelak.