Bab III

Orang yang memurnikan tauhidnya akan masuk surga tanpa hisab

 

Ada tiga macam manusia kelak di hari akhir :

  1. Ada yang dihisab dan diadzab, saat dihisab ternyata dosanya lebih berat ditimbangan daripada amal shalihnya.
  2. Ada yang dihisab dan selamat, karena dosanya lebih ringan dari pada amal shalihnya.
  3. Ada yang masuk surga tanpa hisab.

 

Hisab seorang hamba di hadapan Allah ﷻ kelak ada dua bentuk :

  1. Al ardhu / hisab yasir (hisab yang mudah) yaitu hisab yang mana Allah ﷻ melakukan pemaparan dari beberapa dosa hambaNya ﷻ (tidak semua dosanya), dan si hamba mengakuinya, Allah ﷻ dengan rahmatNya yang maha luas mengatakan “Aku telah menutup aibmu di dunia, dan hari ini aku ampuni semuanya untukmu”.
  2. Hisab ‘asiir (hisab yang sulit) yaitu hisab yang berat, Allah ﷻ menyidang si hamba, ditampakkan baginya seluruh amalan yang pernah dia lakukan, dari amal shalih yang sedikit dan dosa yang banyak. Sang hamba tersiksa dari 2 sisi, sisi dimana dia harus menjalankan sidang yang panjang untuk melihat semua amalnya, dan sisi dimana pada akhirnya dia tahu bahwa adzab neraka telah menanti.

 

Dalil pertama

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).

Nabi Ibrahim disebut dalam ayat ini dengan sebutan umat. Karena banyaknya kebaikan yang terkumpul pada Nabi Ibrahim. Ayat ini dilanjutkan oleh Allah ﷻ dengan pujian kepada Nabi Ibrahim, juga menjelaskan beberapa bentuk kebaikan Nabi Ibrahim yang sangat luar biasa. Sehingga Nabi Ibrahim mendapatkan adzdzikrul hasan, atau sanjungan dan pujian yang senantiasa beliau raih di dunia dan di akhirat. Sehingga telah maklum bahwa orang-orang yahudi dan nasrani juga mengaku pengikut Nabi Ibrahim dan beragama sebagaimana agama Nabi Ibrahim yang hanif, namun klain itu Allah ﷻ bantah dalam alquran. Allah ﷻ berfirman :

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik”. QS Ali Imran : 67.

Beberapa pelajaran dan faidah dari pribadi Nabi Ibrahim antara lain :

  1. Allah ﷻ menyebut Nabi Ibrahim pada ayat selanjutnya dengan firmanNya “Syakiran li an’umih”. An’um, adalah jam’ qillah (minim/sedikit) dari kata ni’mat, yang menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim mensyukuri segala nikmat Allah, dari yang terbesar hingga yang terkecil, atau syukur yang sangat detail, tidak ada nikmat yang terlewat dari syukur Nabi Ibrahim.
  2. Allah ﷻ juga menyebut Nabi Ibrahim sebagai Nabi yang Halim dalam ayat yang lain. Syaikh Nashir Assa’di mengatakan dalam tafsir beliau bahwa halim adalah orang yang memiliki akhlaq yang baik, lapang dada, dan tidak suka marah (berkesempatan marah tapi tidak marah).

 

Dalil kedua

والذين هم بربهم لا يشركون

“Dan orang orang yang tidak mempersekutukan dengan Robb mereka (sesuatu apapun)”. (QS. Al Mu’minun, 59)

 

Dalil ketiga

 

Husain bin Abdurrahman berkata: “Suatu ketika aku berada di sisi Said bin Zubair, lalu ia bertanya : “siapa diantara kalian melihat bintang yang jatuh semalam ?, kemudian aku menjawab : “ aku ”, kemudian kataku : “ ketahuilah, sesungguhnya aku ketika itu tidak sedang melaksanakan sholat, karena aku disengat kalajengking”, lalu ia bertanya kepadaku : “lalu apa yang kau lakukan ?”, aku menjawab : “aku minta diruqyah, ia bertanya lagi : “apa yang mendorong kamu melakukan hal itu ?”, aku menjawab : “yaitu : sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asy Sya’by kepada kami”, ia bertanya lagi : “dan apakah hadits yang dituturkan kepadamu itu ?”, aku menjawab : “dia menuturkan hadits kepada kami dari Buraidah bin Hushaib :

“لا رقية إلا من عين أو حمة”

“Tidak boleh Ruqyah kecuali karena ain atau terkena sengatan”.

     Said pun berkata : “sungguh telah berbuat baik orang yang telah mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi Ibnu Abbas menuturkan hadits kepada kami dari Rasulullah, beliau bersabda :

“عرضت علي الأمم، فرأيت النبي معه الرهط، والنبي معه الرجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد، إذ رفع لي سواد عظيم، فظننت أنهم أمتي، فقيل لي : هذا موسى وقومه، فنظرت فإذا سواد عظيم، فقيل لي : هذه أمتك، ومعهم سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب، ثم نهض فدخل منزله، فحاض الناس في أولئك، فقال بعضهم : فلعلهم الذي صحبوا رسول الله r، وقال بعضهم : فلعلهم الذين ولدوا في الإسلام فلم يشركوا بالله شيئا، وذكروا أشياء، فخرج عليهم رسول الله أخبروه، فقال :” هم الذين لا يسترقون ولا يتطيرون ولا يكتوون وعلى ربهم يتوكلون ” فقام عكاشة بن محصن فقال : ادع الله أن يجعلنى منهم، فقال : أنت منهم، ثم قال رجل آخر فقال : ادع الله أن يجعلني منهم، فقال  :” سبقتك عكاشة “.

“Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, bersamanya sekelompok orang, dan seorang Nabi, bersamanya satu dan dua orang saja, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun yang menyertainya, tiba tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku : bahwa mereka itu adalah Musa skdan kaumnya, tiba tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku : mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang  yang masuk sorga tanpa hisab dan tanpa disiksa lebih dahulu, kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, maka orang orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu ?, ada diantara mereka yang berkata : barangkali mereka itu orang orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya, dan ada lagi yang berkata : barang kali mereka itu orang orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam hingga tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan yang lainnya menyebutkan yang lain pula.

        Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam keluar dan merekapun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda : “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathoyyur dan tidak pernah meminta lukanya ditempeli besi yang dipanaskan, dan mereka pun bertawakkal kepada tuhan mereka, kemudian Ukasyah bin Muhshon berdiri dan berkata : mohonkanlah kepada Allah  agar aku termasuk golongan mereka, kemudian Rasul bersabda : “ya, engkau termasuk golongan mereka”, kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata : mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka, Rasul menjawab : “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah” (HR. Bukhori & Muslim)

Hadits yang panjang ini menerangkan kepada kita bahwa tauhid itu berderajat. Dan derajat yang paling tinggi adalah derajat yang membuat seorang hamba masuk surga tanpa hisab. Beberapa faidah penting dari hadits yang mulia ini antara lain adalah :

  • Ruqyah bermanfaat bagi orang yang terkena sengatan binatang berbisa dan orang yang terkena ain.
  • Istirqa / Meminta diruqyah dapat mengurangi tawakkal seorang yang bertauhid, menunjukkan kerendahan kepada orang yang diminta ruqyah, dan juga ketergantungan hati pada yang diminta. Rasulullah ﷺ bersabda :

 

من اكتوى أو استرقى فقد برئ من التوكل

“Barangsiapa yang melakukan kayy dan meminta ruqyah maka dia sudah terlepas dari tawakkal yang sempurna”.

 

  • Kayy juga pengurang nilai tauhid seseorang, karena di zaman jahiliyyah ada kepercayaan bahwa pengobatan kayy pasti mendatangkan kesembuhan, maka keyakinan in akan mengundang ketergantungan dalam hati seseorang kepada seorang hamba.
  • Tathayyur adalah menyangkutkan antara yang didengar dan dilihat dengan nasib buruk, karena pada hakikatnya semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah ﷻ, bukan dari makhluq. (Penjelasan lebih lengkap pada bab tersendiri)

 

Perlu kita perhatikan sejenak bahwa alasan kita dalam mempelajari kitab tauhid adalah dalam rangka meningkatkan tauhid dan tawakkal kita kepada Allah ﷻ, agar kita dapat mencapai derajat tertinggi dalam tauhid kita kepada Allah ﷻ dan mendapatkan balasan yang paling agung di akhirat kelak, yaitu masuk surga tanpa hisab. aamiin.