Bab VIII

Seputar Jampi-jampi dan Jimat

 

Jimat adalah sesuatu yang digantungkan di badan, di rumah, di mobil, di hewan dan lain-lain dengan tujuan agar terhindar dari ain dan bala. Jimat dan keyakinan atas jimat ini adalah aqidah yang telah lama ada, aqidah jahiliyyah, dan merupakan aqidah kesyirikan. Maka dari itu, Allah ﷻ utus Nabi Muhammad ﷺ untuk mengingatkan akan bahaya jimat ini bagi agama seseorang.

 

Diantara bukti jimat itu adalah syirik, bahwa seseorang yang menggunakannya pasti akan bergantung padanya, tidak bergantung pada Allah ﷻ, meyakini jimat itu dapat berbuat sendiri dalam mendatangkan kebaikan dan mencegah dari keburukan. Sedangkan dalam agama tauhid ini, kita diperintahkan untuk selalu bergantung kepada Allah ﷻ dalam segala hal. Rasulullah ﷺ telah mengajarkan doa-doa dalam menggantungkan diri kepada Allah di banyak aktifitas kehidupan seorang muslim. Di antara doa-doa itu adalah  doa bangun tidur, doa keluar rumah, doa sebelum tidur dan banyak lagi.

 

Berikut ini adalah dalil-dalil yang sangat jelas melarang seseorang menggunakan jimat apapun dan dengan cara apapun.

 

Dalil pertama

في الصحيح عن أبي بشير الأنصاري رضي الله عنه أنه كان مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في بعض أسفاره ; فأرسل رسولا أن لا يبقين في رقبة بعير قلادة من وتر، أو قلادة إلا قطعت.

Diriwayatkan dalam shohih Bukhori dan Muslim bahwa Abu Basyir Al Anshori Radhiallahu’anhu bahwa dia pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu perjalanan, lalu beliau mengutus seorang utusan untuk menyampaikan pesan : “Supaya tidak terdapat lagi dileher onta kalung dari tali busur panah atau kalung apapun harus diputuskan.”

 

Dalil kedua

وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “إن الرقى والتمائم والتولة شرك” رواه أحمد وأبو داود.

Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu menuturkan : Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda : “Sesungguhnya Ruqyah, Tamimah dan Tiwalah adalah syirik.”(HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Ruqyah adalah jampi-jampi yang dibacakan untuk tujuan penyembuhan dari penyakit, ruqyah ada dua jenis, syariyah dan syirkiyyah, yang dimaksud pada hadits  ini adalah ruqyah yang mengandung kesyirikan. Tamimah adalah jimat, dan tiwalah adalah pelet atau jimat yang bertujuan untuk mendekatkan suami pada istri atau sebaliknya dan untuk mendapatkan hati orang yang dicintai.

Hadits ini adalah kisah dari istri shahabat yangmulia Abdullah bin Mas’ud. Beliau berkata kepada suaminya, bahwa pada suatu ketika matanya sakit, dan untuk menyembuhkannya beliau pergi ke seorang yahudi, maka diruqyah atau dijampilah matanya sehingga sembuh. Berkatalah Abdulllah bin Masud, bahwa “rasa sakit itu datang dari setan, jika si yahudi tadi membaca jampi-jampinya maka setan tersebut berhenti menyakiti matamu. Maka cukup bagimua apa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ”. Rasulullaah ﷺ mengajarkan doa berikut untuk dibaca saat seseorang merasa sakit pada anggota tubuhnya.

اللَّهُمَّ ربَّ النَّاسِ ، أَذْهِب الْبَأسَ ، واشْفِ ، أَنْتَ الشَّافي لا شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ ، شِفاءً لا يُغَادِرُ سقَماً

“Wahai Allah ﷻ, wahai Rabb manusia,  lenyapkanlah segala pentakit, sembuhkanlah, Engkau Tuhan yang menyembuhkan, tiada kesembuhan keculai kesembuhan-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan satu penyakitpun (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalil ketiga

وعن عبد الله بن عكيم مرفوعا: “من تعلق شيئا وُكل إليه”  رواه أحمد والترمذي.

Dalam hadits marfu’ dari Abdullah bin ‘Ukaim Rasulullah ﷺ bersabda : “Barang siapa yang menggantungkan sesuatu (dengan anggapan bahwa barang tersebut bermanfaat atau dapat melindungi dirinya), maka Allah ﷻ akan menjadikan orang tersebut selalu bergantung kepadanya.”(HR. Ahmad dan At Turmudzi)

Dalil ini menerangkan keumuman jimat. Apapun cara memakainya dan digantung dimanapun, juga segala sesuatu yang digunakan sebagai jimat ini tercakup oleh hadits-hadits di atas. Karena ketergantungan hanyalah kepada Allah, jika seseorang menggunakan jimat maka hati akan berpaling pada benda mati atau jimat tersebut dan menjauh dari tauhid dan tawakkal.

Hadits ini adalah kisah ketika Isa bin Abdurrahman berkata, kami menemui Abdullah bin Ukaim tatkala beliau sakit, dikatakan padanya, cobalah pakai jimat? Beliau berkata, Apakah saya pakai jimat? Tidak layak seorang muslim memakai jimat. Lalu beliau membacakan hadits di atas.

Segala sarana yang diperbolehkan menuju kesembuhan adalah sarana semata, hati kita harus ditata agar dapat menjaga ketergantungan hati dan tauhid kita kepada Allah

Cara-cara meruqyah :

  1. Annafts, tiupan disertai sedikti sekali air liur atau tanpa air liur sama sekali. Ini sebagaimana dalam hadits disebutkan, bahwa mimpi yang baik itu dari ALlah dan yang buruk dari syaithan, jika dia melihat mimpi buruk maka hendaklah dia meniup di sebelah kiri 3 kali, berlindung kepada Allah dari mimpi tersebut, dan bahwa mimpi itu tidak akan mendatang keburukan apapun. Ini dalil dari para ulama bahwa boleh meruqyah dengan meniup ke tubuh orang yang sakit.
  2. Attaflu, meniup disertai sedikit air liur. Ini sebagaimana terdapat dalam hadits dari Abu said alkhudri ketika ada seorang penghulu sebuah kaum sakit, maka dia pun meruqyahnya, disebutkan bahwa dia melakukan tafl dan membaca surat alfatihah, sehingga Allah sembuhkan pemimpin kaum tersebut.
  3. Membaca tanpa tiupan. Sebgaimana hadits aisyah, bahwa jika Nabi menjenguk atau didatangi orang sakit, beliau membaca doa

اللَّهُمَّ ربَّ النَّاسِ ، أَذْهِب الْبَأسَ ، واشْفِ ، أَنْتَ الشَّافي لا شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ ، شِفاءً لا يُغَادِرُ سقَماً

  1. Dengan tanah dan air liur. Dari Aisyah, Nabi mengajarkan kepada orang yang sakit meludah pada telunjuknya dan menempelkannya pada debu, diusapkan pada bagian tubuh yang terluka atau sakit seraya membaca doa berikut :

بسم الله، تربة أرضنا، بريقة بعضنا، يشفى سقيمنا، بإذن ربنا

“Dengan nama Allah, tanah dari bumi kami, dengan air liur sebagian kami, disembuhkan orang yang sakit diantara kami, dengan izin Rabb kami.”

  1. Mengusap tangan ke tubuh seraya membaca doa berikut

أعوذ بالله وقدرته من شر ما أجد وأحاذر

Dengan nama Allah (3x). Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya, dari kejahatan sesuatu yang aku jumpai dan aku khuatir (7x). HR. Muslim 4/1728.

  1. Membaca lalu meniupkan ke air, kemudian diminumkan, atau diusapkan pada bagian tubuh yang sakit, atau dimandikan tubuh dengannya. Sebagaimana Nabi ﷺ mengusapkan air dan garam yang sudah dicampurkan pada bagian tubuhnya yang terkena sengatan kalajengking saat shalat, kemudian membaca surat alkafirun, alfalaq dan annas. Ini diperbolehkan oleh para salaf, seperti Ibunda Aisyah, Imam Ahmad, Ibn Qayyim dan selain mereka.

Dalil keempat

وروى أحمد عن رويفع قال: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: “يا رويفع، لعل الحياة ستطول، بك فأخبر الناس أن من عقد لحيته، أو تقلد وترا، أو استنجى برجيع دابة أو عظم، فإن محمدا بريء منه”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ruwaifi’ Radhiallahu’anhu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda kepadanya : “Hai Ruwaifi’, semoga engkau berumur panjang, oleh karena itu sampaikanlah kepada orang-orang bahwa barang siapa yang menggulung jenggotnya, atau memakai kalung dari tali busur panah, atau bersuci dari buang air dengan kotoran binatang atau tulang, maka sesungguhnya Muhammad berlepas diri dari orang tersebut”.

Dalam dalil ini mengumpulkan beberapa larangan, salah satunya adalah jimat. Mengikat jenggot masuk dalam larangan karena sebab kesombongan, diantara ulama mengatakan bahwa ini adalah kebiasaan wanita yang sombong.

Dalil kelima

وعن سعيد بن جبير قال: “من قطع تميمة من إنسان كان كعدل رقبة”. رواه وكيع

Waki’ meriwayatkan bahwa Said bin Zubair Radhiallahu’anhu berkata : “Barang siapa yang memotong tamimah dari seseorang maka tindakannya itu sama dengan memerdekakan seorang budak.”

Dalil keenam

وله عن إبراهيم قال: ”كانوا يكرهون التمائم كلها، من القرآن وغير القرآن“.

Dan waki’ meriwayatkan pula bahwa Ibrahim (An-Nakho’i) berkata : “Mereka (para sahabat) membenci segala jenis tamimah, baik dari ayat-ayat Al Qur’an maupun bukan dari ayat-ayat Al Qur’an.”

Jimat dengan rajah-rajah dan kata-kata yang tidak dipahami, ditulis dengan darah, ditulis di bangkai yang merupakan naijis dan lain-lain, ini semua ijma’ dilarang oleh syariat. Begitu juga jimat dari murni alquran, ini haram dan Ini adalah pendapat Abdullah bin Masud. Ini yang lebih rajih walaupun terdapat perbedaan pendapat ulama dalam hal ini.